Seorang datang kepada Nabi Isa A.S dan bertanya : Ajarilah kami suatu ilmu yang karenanya Allah mengabulkan doa kami ? Isa A.S menjawab : "Bencilah dunia, niscaya Allah SWT mengabulkan doamu"
Membenci dunia ? Ternyata ini kunci dikabulkannya doa manusia kepada Tuhan Yang Maha Kudus. Penemu kunci ini tidak sembarangan lho. Kita semua tahu, dia adalah Nabi yang punya sebutan Ruh Allah, yang terkenal karena simbol bahasa pancaran kasih sayangNya kepada manusia.
Pada suatu hari, Isa A.S berada di dalam suasana yang muram. Hujan lebat, guntur dan petir menyambar-nyambar sehingga memaksa Isa mencari tempat berlindung. Tiba-tiba pandangan matanya jatuh pada sebuah kemah yang terletak di kejauhan. Ia berlari mendatangi kemah, namun saat akan masuk ternyata ada seorang perempuan di dalamnya. Isa mengurungkan masuk dan pergi lagi mencari tempat lain.
Tiba-tiba, ia menemukan sebuah gua di kaki gunung dan berniat masuk ke dalamnya. Betapa terkejutnya Isa, ternyata di dalam gua terdapat seekor singa. Isapun kemudian berdoa :...."Tuhanku, Engkau ciptakan bagi setiap sesuatu tempat berlindungnya, tetapi Engkau tidak menjadikan tempat berlindung untukku"
Allah langsung merespon doa Isa dan mewahyukan kalam : "Tempat berlindungmu adalah rahmat-Ku"
Nabi Isa A.S kemudian berjalan gontai merenungkan kalam Ilahi tersebut sambil memohon ampunan-Nya. Ia kemudian bertemu dengan seorang pengikutnya, Hawariyun dan berdua meneruskan perjalanan menuju suatu tempat. Keduanya melewati sebuah kampung yang sunyi dan sepi. "Kemana penduduknya ?..."Kata Isa dalam hati.
Tiba-tiba, sebuah pemandangan mengerikan terlihat. Mayat-mayat bergelimpangan di halaman-halaman rumah dan di jalan-jalan. Isa lantas berkata pada Hawariyun : "Wahai Hawariyun, mereka mati karena kemurkaan. Kalau mereka mati bukan karena itu, maka mereka saling menguburkan."
"Wahai Ruh Allah, kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka ?" tanya Hawariyun. Isa lantas memohon kepada Allah, lalu DIA mewahyukan kalam kepada Isa : "Jika malam tiba, panggilah ruh mereka, maka mereka akan menjawab panggilanmu."
Malam pun tiba. Suara burung gagak hitam bersahut-sahutan di bukit tempat Isa dan Hawariyun duduk bersila. Di kejauhan, tampak kampung yang penuh mayat tersebut disinari cahaya bulan.
Isa pun naik ke puncak bukit dan memanggil para ruh: "Wahai penghuni kampung" Salah satu ruh penghuni kampung menjawab : "Aku memenuhi seruanmu, wahai Ruh Allah"
"Bagaimana keadaan kalian dan bagaimana kisah kalian kok kampung ini hancur ?" tanya Isa A.S. Ruh itu menjawab: "Saat malam tiba, kami semua penghuni kampung masih sehat, tapi menjelang pagi kami semua ditimpa kematian"
Isa bertanya : Bagaimana bisa begitu ? "Karena kami mencintai dunia dan menaati ahli maksiat" kata ruh tersebut. "Bagaimana sesungguhnya kecintaan kalian kepada dunia ? Tanya Isa. Ruh menjawab : Seperti kecintaan anak kepada ibunya. Jika ia datang, kami senang. Namun jika ia hilang kami sedih dan menangisinya."
Isa bertanya lagi : "Bagaimana keadaan teman-teman sekampungmu, mengapa mereka tidak menjawab pertanyaanku ?" "Mereka sekarang diikat tali dari api oleh para malaikat yang bertangan kekar" kata Ruh itu. Isa melanjutkan pertanyaannya, "Bagaimana engkau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanku ?"
Ruh itu menjawab : "Saat azab datang itu, aku sedang berada di tengah-tengah mereka. Tetapi aku bukan bagian dari mereka. Saat azab meluluh lantakkan kampung, kami semua mati dan kemudian di masukkan ke neraka. Namun aku sempat bergantung pada tepi neraka tanpa tahu apakah selamat atau jatuh ke dalamnya hingga sekarang ini"
Isa kemudian menyelesaikan dialognya dengan ruh itu dan berpesan kepada Hawariyun, pengikutnya yang sejak tadi menungguinya. "Hai Hawariyun, makanlah roti gandum dengan garam tumbuk. Berpakaianlah tenunan kasar dan tidurlah di atas tumpukan sampah, niscaya engkau selamat di dunia dan akhirat" kata Isa.
Dari kisah di atas bisa disimpulkan bahwa kunci terkabulnya doa menurut Nabi Isa A.S adalah MEMBENCI DUNIA. Maksudnya adalah tidak menjadikan dunia sebagai titik orientasi hidup sehingga bisa membuat laku spiritual kita mandeg dan stagnan. Inilah yang harus dihindari oleh pejalan spiritual yang ingin meneruskan perjalanan batinnya menuju makrifat kepada-Nya.
Kunci yang sama di sampaikan oleh Nabi Musa A.S. Suatu ketika, Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa sebagai berikut : "Wahai Musa, janganlah sekali-kali kamu cenderung mencintai dunia karena dengan begitu kamu tidak akan mendatangkan kepada-Ku pengagungan yang sebenarnya lebih utama daripada mengagungkan dunia"
Masih kepada Musa, Allah mewahyukan kalam : "Wahai Musa, tidaklah bagimu ada tempat bagi orang-orang zalim. Sebab bagimu bukanlah tempat yang darinya keluar cita-citamu dan berpisah darinya akalmu. Dunia adalah sejelek-jeleknya tempat. Kecuali bagi orang-orang yang beramal, maka ia adalah sebaik-baiknya tempat. Wahai Musa, aku mengawasi orang zalim sehingga mengambil darinya kebaikan untuk orang yang di zaliminya"
Begitu pula sikap Nabi Sulaiman. Nabi yang di kenal karena kekuasaan dan kekayaan yang tiada bandingannya di bumi pada suatu ketika berada di tengah arak-arakan. Burung-burung di atasnya, manusia dan jin di kanan-kirinya. Di tengah arak-arakan, seorang dari Bani Israil yang ahli ibadah berkata pada Sulaiman : "Demi Allah, wahai putra Dawud, Allah telah memberikan kepadamu kerajaan yang besar."
Mendengar kalimat itu, Sulaiman berkata : "TASBIH seorang yang beriman kepada Allah lebih baik dari pada yang diberikan kepada putra Dawud (Sulaiman red). Sebab yang diberikan kepada putra Dawud akan hilang sedangkan tasbih akan kekal selama-lamanya."
Isa AS pernah berkata : "LAUK PAUKKU ADALAH LAPAR, SUKURKU ADALAH TAKUT, PAKAIANKU ADALAH BULU DOMBA, PELITAKU ADALAH BULAN, TUNGGANGANKU ADALAH KEDUA KAKIKU, MAKANANKU ADALAH APA YANG TUMBUH DI TANAH DAN AKU TIDAK MEMPUNYAI SESUATU APAPUN. AKU MEMASUKI PAGI TANPA SESUATU YANG KUMILIKI. AKAN TETAPI, TIDAK SEORANG PUN DI MUKA BUMI YANG LEBIH KAYA DARIKU"
Diriwayatkan dari kisah nabi pertama, Adam AS bahwa setelah memakan buah khuldi dari pohon, perutnya bergerak-gerak untuk mengeluarkan kotoran. Hal ini tidak terjadi pada makanan surga yang lain sehingga Adam memang dilarang untuk mendekati pohon laknat tersebut. Karena perutnya mulas, ia mulai berputar-putar di surga sehingga Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mengajaknya bicara : "Apa yang kamu inginkan ?"
"Aku ingin menghilangkan penyakit yang ada di perutku" jawab Adam. Malaikat itu menjawab : "Tempat apa yang kau inginkan untuk membuangnya, apakah di atas kasur, di atas dipan, di sungai atau di bawah pohon ? Tahukah kamu tempat yang paling cocok untuk membuang penyakit dan kotoran di dalam perutmu adalah dunia !"
Maka diturunkanlah Adam ke dunia : tempat terkotor yang sangat berbeda dengan di surga yang penuh kemuliaan.
Nabi Nuh A.S pada suatu ketika di datangi Jibril untuk menyampaikan wahyu : Wahai Nabi yang paling panjang umur, bagaimana anda mensikapi dunia ini ? "Seperti rumah yang memiliki dua pintu, aku masuk dari pintu satu dan keluar dari pintu lainnya".
Nabi penutup, Muhammad Rasulullah SAW - nabi yang juga kenyang dengan kefakiran ini dan bila lapar perutnya di ganjal dengan batu - suatu ketika bersabda : BARANG SIAPA MEMASUKI PAGI SEMENTARA KEINGINANNYA ADALAH KEDUNIAAN, IA TIDAK BERNILAI DI SISI ALLAH. ALLAH AKAN MENUMBUHKAN KE DALAM HATINYA EMPAT HAL : (1). KEINGINAN YANG TIDAK TERPUTUS, (2). KESIBUKAN YANG TIADA HENTI, (3). KEFAKIRAN YANG TIDAK MENCAPAI KECUKUPAN, (4). ANGAN-ANGAN YANG TIADA AKHIR.
Jadi ternyata, itulah rahasia yang dipaparkan para nabi sepanjang masa kenapa suatu doa itu dikabulkan oleh Tuhan : yaitu mereka yang berdoa hendaknya TIDAK BERSANDAR PADA KEDUNIAAN KARENA HAKEKATNYA DUNIA ADALAH MAKHLUK YANG PALING DIBENCI TUHAN. Seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW : keduniaan itu tergantung di antara langit dan bumi. Sejak Allah menciptakannya, DIA tidak pernah lagi memandangnya.
Pada hari kiamat dunia berkata : Tuhanku, apakah Engkau menjadikanku untuk menghina wali-Mu pada hari ini ? Tuhan menjawab : DIAMLAH, HAI SESUATU YANG TIDAK BERNILAI ! AKU TIDAK MERIDHOIMU UNTUK MEREKA DI DUNIA, LALU APAKAH AKU AKAN MERIDHOI MANUSIA YANG CINTA DUNIA HARI INI ?
Kamis, 19 Mei 2011
Lepas Dari Belenggu Sihir Dengan Al Falaq Dan An Nas
A : "Kenapa lelaki ini?"
B : "Disihir orang"
A : "Siapa yang menyihir?"
B : "Labid bin Aksam, Yahudi"
A : "Dengan apa disihir?"
B : "Dengan sisir dan gigi sisir"
A : "Di mana?"
B : "Dalam buntalan daun tamar di bawah batu di telaga zarwan"
Itulah dialog dua malaikat saat melihat Rasulullah terbaring sakit yang merupakan Azbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya) Surat Al Falaq dan An Nas. Dua surat ini diturunkan saat Rasulullah Muhammad SAW pulang dari Hudaibiyah di bulan Zulhijjah tahun ke 7 hijriah. Diriwayatkan setelah selesai perang Khaibar maka para pemimpin Yahudi berniat untuk terus menghabisi gerakan dan ajaran yang di bawa Muhammad SAW dengan berbagai cara.
Salah satu cara itu adalah cara-cara mistik yaitu menggunakan sihir. Di utuslah seorang pimpinan Yahudi untuk menemui dukun sihir Yahudi, Labid bin Aksam. Labid sang dukun sihir meminta syarat yaitu benda-benda pribadi milik Rasulullah. Singkatnya, dengan kerjasama dari seorang pendamping Rasulullah ditemukan sisir rambut nabi.
Ritual magis ilmu hitam pun dilakukan pada suatu malam oleh Labid bin Aksam. Sebuah lilin di bentuk menjadi seperti boneka kecil menyerupai tubuh manusia. Di dunia sihir, teknik ini fungsinya adalah visualisasi dan representasi tubuh yang akan di sihir. Sebuah teknik universal yang sudah jamak dilaksanakan oleh kalangan tukang sihir ilmu hitam di belahan dunia barat dan timur. Boneka lilin kemudian diikat dengan sebelas ikatan dan kemudian di tusuk dengan sebelas jarum dan di letakkan di sebuah tempat.
Maka saat itu Rasulullah di riwayatkan terkena sihir selama 40 hari. Tubuhnya panas dingin dan penuh kesakitan, meskipun tidak sampai membuat tewas sang kekasih Allah ini. Kesadarannya timbul dan kadang tenggelam hingga tidak mampu mengingat siapa dirinya.
Hingga akhirnya, pertolongan Allah SWT datang. DIA mengutus dua malaikat untuk mendatangi Rasulullah dari dua arah. Seorang malaikat datang di arah kepala (A) dan seorang malaikat datang di arah kaki (B). Terjadilah dialog antara dua malaikat sebagaimana yang telah ditulis di awal artikel tadi.
Rasulullah kemudian di buka kesadarannya oleh dua malaikat tersebut dan terbangun. Si Rasulullah kemudian menyuruh Sayidina Ali, Sayidina Zubir dan Omar bin Yasir untuk pergi ke telaga Zarwan. Di bawah sebuah batu, ditemukan buntalan daun tamar. Di dalam buntalan tersebut terdapat sisir rambut, gigi sisir dan boneka lilin yang diikat sebelas simpul dan sebelas jarum yang ditusukkan. Boneka tersebut kemudian di bawa ke Rasulullah SAW.
Selanjutnya, turunlah dua surat yaitu SURAT AL FALAQ DAN AN NAS. Apabila di baca satu ayat, maka terurailah satu ikatan, sehingga akhirnya semua ikatan gaib di tubuh Rasulullah terlepas. Rasulullah SAW akhirnya terbebaskan dari pengaruh semua sihir. Satu persatu jarum di boneka di cabut sambil membaca satu ayat, hingga akhirnya rasa sakit di seluruh tubuh Rasulullah menghilang.
Diriwayatkan dari 'Aisyah (R.a) bahwa usai kejadian tersebut pada setiap malam apabila akan tidur, Rasulullah membaca SURAT IKHLAS, SURAT AL FALAQ DAN SURAT AN NAS. Kemudian ditiupkan pada tapak tangan dan disapukan ke seluruh tubuh dan kepala.
Sayidina Ali (RA) memaparkan pernah Rasulullah di gigit kala jengking, kemudian beliau mengambil air garam, di bacakan surah Al Falaq dan An Nas lalu disapukan ke anggota tubuh yang di gigit kala jengking. Di riwayat lain yang disampaikan oleh Uqbah bin Amir : ketika aku sesat dalam perjalanan bersama dengan Rasulullah ia membaca surah Al Falaq dan An Nas dan aku pun di suruh membacanya.
Itulah sedikit sejarah Rasulullah SAW di masa silam. Sehingga kita juga bisa meneladani perilakunya menyembuhkan berbagai godaan ilmu hitam maupun godaan fisik lain dengan obat mujarab yaitu surah Al Falaq dan An Nas. Dua ayat ini memang terbukti efektif untuk membentengi diri dari kejahatan gaib. Bila di baca sebanyak 41 kali, selama 3 hari, 5 atau 7 hari berturut-turut maka kejahatan setan dan manusia akan hancur. Bila menghadapi penguasa yang kejam dan lalim, maka kita disarankan membaca surat Al Falaq dan surat An Nas masing-masing sebanyak 100 kali.
B : "Disihir orang"
A : "Siapa yang menyihir?"
B : "Labid bin Aksam, Yahudi"
A : "Dengan apa disihir?"
B : "Dengan sisir dan gigi sisir"
A : "Di mana?"
B : "Dalam buntalan daun tamar di bawah batu di telaga zarwan"
Itulah dialog dua malaikat saat melihat Rasulullah terbaring sakit yang merupakan Azbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya) Surat Al Falaq dan An Nas. Dua surat ini diturunkan saat Rasulullah Muhammad SAW pulang dari Hudaibiyah di bulan Zulhijjah tahun ke 7 hijriah. Diriwayatkan setelah selesai perang Khaibar maka para pemimpin Yahudi berniat untuk terus menghabisi gerakan dan ajaran yang di bawa Muhammad SAW dengan berbagai cara.
Salah satu cara itu adalah cara-cara mistik yaitu menggunakan sihir. Di utuslah seorang pimpinan Yahudi untuk menemui dukun sihir Yahudi, Labid bin Aksam. Labid sang dukun sihir meminta syarat yaitu benda-benda pribadi milik Rasulullah. Singkatnya, dengan kerjasama dari seorang pendamping Rasulullah ditemukan sisir rambut nabi.
Ritual magis ilmu hitam pun dilakukan pada suatu malam oleh Labid bin Aksam. Sebuah lilin di bentuk menjadi seperti boneka kecil menyerupai tubuh manusia. Di dunia sihir, teknik ini fungsinya adalah visualisasi dan representasi tubuh yang akan di sihir. Sebuah teknik universal yang sudah jamak dilaksanakan oleh kalangan tukang sihir ilmu hitam di belahan dunia barat dan timur. Boneka lilin kemudian diikat dengan sebelas ikatan dan kemudian di tusuk dengan sebelas jarum dan di letakkan di sebuah tempat.
Maka saat itu Rasulullah di riwayatkan terkena sihir selama 40 hari. Tubuhnya panas dingin dan penuh kesakitan, meskipun tidak sampai membuat tewas sang kekasih Allah ini. Kesadarannya timbul dan kadang tenggelam hingga tidak mampu mengingat siapa dirinya.
Hingga akhirnya, pertolongan Allah SWT datang. DIA mengutus dua malaikat untuk mendatangi Rasulullah dari dua arah. Seorang malaikat datang di arah kepala (A) dan seorang malaikat datang di arah kaki (B). Terjadilah dialog antara dua malaikat sebagaimana yang telah ditulis di awal artikel tadi.
Rasulullah kemudian di buka kesadarannya oleh dua malaikat tersebut dan terbangun. Si Rasulullah kemudian menyuruh Sayidina Ali, Sayidina Zubir dan Omar bin Yasir untuk pergi ke telaga Zarwan. Di bawah sebuah batu, ditemukan buntalan daun tamar. Di dalam buntalan tersebut terdapat sisir rambut, gigi sisir dan boneka lilin yang diikat sebelas simpul dan sebelas jarum yang ditusukkan. Boneka tersebut kemudian di bawa ke Rasulullah SAW.
Selanjutnya, turunlah dua surat yaitu SURAT AL FALAQ DAN AN NAS. Apabila di baca satu ayat, maka terurailah satu ikatan, sehingga akhirnya semua ikatan gaib di tubuh Rasulullah terlepas. Rasulullah SAW akhirnya terbebaskan dari pengaruh semua sihir. Satu persatu jarum di boneka di cabut sambil membaca satu ayat, hingga akhirnya rasa sakit di seluruh tubuh Rasulullah menghilang.
Diriwayatkan dari 'Aisyah (R.a) bahwa usai kejadian tersebut pada setiap malam apabila akan tidur, Rasulullah membaca SURAT IKHLAS, SURAT AL FALAQ DAN SURAT AN NAS. Kemudian ditiupkan pada tapak tangan dan disapukan ke seluruh tubuh dan kepala.
Sayidina Ali (RA) memaparkan pernah Rasulullah di gigit kala jengking, kemudian beliau mengambil air garam, di bacakan surah Al Falaq dan An Nas lalu disapukan ke anggota tubuh yang di gigit kala jengking. Di riwayat lain yang disampaikan oleh Uqbah bin Amir : ketika aku sesat dalam perjalanan bersama dengan Rasulullah ia membaca surah Al Falaq dan An Nas dan aku pun di suruh membacanya.
Itulah sedikit sejarah Rasulullah SAW di masa silam. Sehingga kita juga bisa meneladani perilakunya menyembuhkan berbagai godaan ilmu hitam maupun godaan fisik lain dengan obat mujarab yaitu surah Al Falaq dan An Nas. Dua ayat ini memang terbukti efektif untuk membentengi diri dari kejahatan gaib. Bila di baca sebanyak 41 kali, selama 3 hari, 5 atau 7 hari berturut-turut maka kejahatan setan dan manusia akan hancur. Bila menghadapi penguasa yang kejam dan lalim, maka kita disarankan membaca surat Al Falaq dan surat An Nas masing-masing sebanyak 100 kali.
Makna Syariat Menuju Illahi
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, yang maha mengetahui seluruh rahasia tersembunyi dan dimana hati mukminin bergetar tatkala mendengar asma-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada penghulu sekalian Rasul, penyempurna risalah Illahi beserta keluarganya.
Dalam makna syariat menuju Illahi, umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit sehingga tak jarang kehilangan substansinya. Dan akibatnya, mereka hanya melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga yakni pembuka jalan menuju "kebenaran syariat".
Sikap terhadap shalat misalnya, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu'an yang terabaikan. Shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon petunjuk tetapi telah berubah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi dengan berbagai macam larangan dan ancaman yang mengerikan. Sehingga terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam setiap melakukan syariat Islam. Hal ini tidak ubahnya tawanan perang yang harus memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang kejamnya sang penguasa.
Belum lagi dalam melaksanakan petunjuk Al Qur'an yang terasa di kejar target syarat sahnya syariat selain hitung-hitungan amal, dan jarang mengarah pada pemahaman akan fungsi syariat itu sendiri. Setiap syariat (aturan Allah) merupakan jalan dengan segala rambu-rambunya menuju hikmah yang dikandung di dalam teks dan praktek secara sempurna, serta pembuka tabir dibalik "firman".
Syariat bukan hanya untuk di baca dan di sucikan tanpa menyentuh isi tujuan yang di baca, seperti tercantum dalam surat Al Alaq 1-5 : "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah ! Dan Tuhanmu yang paling pemurah. Yang telah mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".
Memang, Al Qur'an adalah firman Allah yang disucikan sehingga memegangpun harus suci dari hadast, namun hal ini bukan berarti haram bagi manusia untuk memahami sesuai dengan kadar pemikiran dan pemahamannya. Sebab Al Qur'an itu diturunkan sebagai petunjuk manusia dan semesta alam.
Sikap jumud (pendek akal) ini pun pernah di protes RA Kartini pada gurunya, KH Sholeh Darat, ketika ia mengusulkan agar Al Qur'an itu diterjemahkan. Saat itu, ia merenungkan kondisi bangsa Indonesia yang mengalami kemunduran pemikiran. Bagi Kartini, Al Qur'an yang begitu agung tidak hanya bacaan suci yang berpahala dan pengobat hati saja, namun ia merupakan petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, andai Al Qur'an sudah diterjemahkan waktu itu, insya Allah bangsa Indonesia akan sadar pada integritasnya sehingga tidak akan mau menjadi budak Belanda.
Kata "iqra" merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al Qur'an membuka cakrawala dunia ilmu (pengetahuan) yang dapat di gali melalui kata "baca". Sejarah duniapun mengakui bahwa pada abad ke tujuh Islam telah mengalami masa kejayaan dan peradaban yang pesat.
Islam telah berhasil mengembangkan khazanah landasan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sampai abad ke tiga belas dilakukan secara terus-menerus penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang kelak dijadikan landasan ilmu pengetahuan modern. Bisa dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang di kembangkan oleh barat yang baru di mulai pada permulaan abad 15 sampai sekarang.
Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui.
Dari sini muncul teori untuk menerangkan suatu gejala, ataupun teori yang di susun untuk meramalkan gejala yang akan terjadi bila diadakan suatu percobaan tertentu dalam laboratorium. Kemudian dilakukan eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Begitu seterusnya, hingga sains natural tumbuh dan berkembang terus dari hasil serangkaian kegiatan kaji-mengkaji secara struktural dan sistimatis silih berganti (disebut intizhar). Hal tersebut hanya dapat terjadi dalam suatu generasi yang begitu gigihnya melakukan intizhar (penelitian) atas dasar keislaman yang terkandung dalam Al Qur'an.
Dan bukan dengan cara disucikan dalam makna yang keliru sehingga muncul kerancuan ilmu pengetahuan yang di akibatkan oleh penyampaian tentang Islam yang tidak Islami. Akibatnya bisa kita lihat dan rasakan sekarang bagaimana kebanyakan orang menganggap belajar fisika, biologi, kimia dan ekonomi bukan ilmu Islam. Mereka anti pati dengan ilmu dunia yang di anggap bukan berasal dari Al Qur'an, dan mereka hanya kenal tentang Islam sebagai musabaqoh Al Qur'an, haji, zakat, dan shalawat nabi serta upacara-upacara seremonial, berikut segala larangan dan ancaman, amalan dan ganjaran, tidak lebih dari itu, dan selain itu di tolak habis.
Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya di bidang alkemi yang kemudian oleh ilmuan barat di ambil alih serta di kembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia. Sebab Jabir yang namanya di latinkan menjadi Geber adalah orang yang telah melakukan intizhar dan merupakan orang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi menjadi zat-zat kimia dan mengklasifikasi-kannya.
Di dalam sejarah ilmu pengetahuan yang di tulis oleh sarjana Eropa di sebutkan bahwa Mohammad Ibnu Zakaria ar-rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi dan sebagainya. Buku Ar-rozi, yang namanya di latinkan menjadi Razes, di anggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana barat, yang baru berabad-abad kemudian mempelajari sains yang telah di kembangkan oleh umat islam, di universitas-universitas islam di Toledo dan Cordoba, Spanyol.
Terlalu banyak ilmuan islam dan karya mereka untuk disebutkan pada kesempatan ini, dan begitu dalam pula pengaruh terhadap karya tokoh-tokoh ilmiah itu di Eropa dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan hingga masih dirasakan berabad-abad kemudian.
Apakah sebabnya pada masa dahulu umat islam giat sekali mengembangkan islam secara mendalam baik dalam bidang hukum, filsafat, sains, maupun tasawuf. Namun sebaliknya apakah yang kita lihat dan rasakan pada masa sekarang di abad ke 21 ini ?
Di pesantren-pesantren serta perpustakaan-perpustakaan islam hanyalah tersisa berupa kitab lusuh klasik yang "dikeramatkan" dan "dikomersilkan" seperti imriti matan, jurumiah, bulughul marom, madzahibul arba'ah yang kesemuanya itu pelajaran-pelajaran tata bahasa arab belaka serta ilmu-ilmu fiqih yang sudah dipatenkan. Pintu ijtihad sudah ditutup !!
Sesungguhnya di dalam Al Qur'an banyak diperoleh ayat yang mendorong umat islam untuk melakukan intizhar dan menggunakan akal pikiran seperti tercantum dalam ayat 101 surat Yunus memerintahkan : "Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intizhar/nazar apa-apa yang ada di langit dan di bumi." Bahkan dalam ayat 17-20 surat Al Ghasiyah dipertanyakan : "Maka apakah mereka tidak melakukan intizhar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung bagaimana ia didirikan. Dan bumi bagaimana ia dibentangkan. Maka berikanlah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan".
Penggunaan akal pikiran untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah ditegaskan dalam surat An-Nahl 11 : "Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berfikir."
Yang kemudian dilanjutkan dalam ayat 12 : "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal".
Sebenarnya di dalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah menundukkan dan mengatur perilaku matahari, bintang, dan bulan dengan perintah-Nya. Peraturan Allah inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta beserta isinya, bagaimana ia harus bertingkah laku. Yang kemudian oleh manusia disebut sebagai hukum alam, atau peraturan yang diikuti oleh alam.
Lebih jelas lagi kita baca surat Fushilat ayat 11 : "Kemudian dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Jawab mereka : "Kami mengikuti dengan suka hati".
Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan peraturan sang pencipta, termasuk apa yang disebut alam pada diri manusia (mikrokosmos), termasuk segala yang ada dalam tubuh kita seperti detak jantung, darah mengalir menghantarkan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, nafas menghembus tanpa kita perintahkan yang semuanya bergerak diluar kehendak kita.
Semua serba teratur dan tunduk patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan, mereka bekerja dalam ketetapan dan fungsinya masing-masing. Namun demikian manusia tetaplah manusia yang selalu saja tidak pernah bersukur dan menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah yang maha pemurah, dan tetap saja kebanyakan manusia mengingkari hal itu semua sebagai rahmat-Nya. Walaupun seluruh instrumen tubuh manusia itu sesungguhnya ikut dalam peraturan islam yang merupakan ketetapan Allah.
SYARIAT SEBAGAI GERBANG DUNIA HAKIKAT
Umat islam masa sekarang ini banyak yang mengalami kehilangan arah dan tempat pijakan. Dari mana harus memulainya. Mereka terpuruk dan ingin cepat bangkit dari ketertinggalannya. Hal tersebut tampak dari semangat yang kadang berlebihan dengan diiringi emosi yang tinggi, sehingga hal itu memudahkan musuh-musuh islam untuk mensiasati dan menjadikan umat islam sebagai kaum teroris dan berbagai kesan kurang baik lainnya. Hal ini harus diakui merupakan keteledoran umat islam dalam melaksanakan ajaran dengan pengertian yang keliru.
Islam harus kembali kepada hati yang suci, yang dalam firman Allah dikatakan..."Yang mampu memuat Dzat-Ku". Dengan demikian seharusnya manusia akan berkata-kata dengan Rab-Nya tentang hidup, tentang ilmu, tentang informasi dan rencana-rencana untuk menghadapi semua permasalahan di dunia maupun di akhirat. Bukankah Allah berjanji akan melindungi seorang mukmin dengan mengalahkan sepuluh orang musuh ?.
Kaum yang sedikit dengan kekuatan spiritual yang luar biasa mampu mengalahkan perang badar yang dahsyat. Nabi Musa dengan keteguhannya dalam bertauhid mampu mengalahkan Raja Fir'aun. Dan masih banyak lagi pejuang-pejuang sahid kita dalam menghadapi musuh dengan tetap teguh pada jalan tauhid dan komunikasi kepada Allah Yang Agung.
Kita sadar bahwa begitu agungnya Al Qur'an, dan begitu piciknya kita dalam memahami syariat, sehingga kita lihat umat Islam sekarang terpuruk dan saling menyalahkan. Kita lihat pula gerakan atau harokah-harokah islam muncul dimana-mana dengan berbagai bentuk penawaran berupa konsep keislaman yang lebih murni. Namun apa yang terjadi, kenyataannya mereka masih sangat rapuh sehingga antara mereka masih mengadakan adu otot di khalayak ramai bahkan seperti anak kecil saling cemooh dan masing-masing pihak merasa yang paling benar dan islami.
Satu hal yang belum ada dalam jiwa umat yaitu kelembutan hati akibat jauhnya dari ingat kepada Allah, memulainya tindakan sesuatu bukan dilandasi karena Allah, serta kurang siapnya kita dalam menembus hati-hati yang panas dan gersang dengan sapaan jiwa yang manis penuh kasih. Kita belum memiliki keberanian untuk mengatakan akulah yang salah dan terima kasih atas nasihatmu. Padahal untuk hal seperti itu Allah sudah memberikan peringatan seperti yang tercermin dalam surat Al Asyr ayat 3 : "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran".
Pada kali ini saya akan membicarakan masalah syariat pada sisi yang lain disamping sudah terpapar mengenai bersyariat untuk memikirkan mengenai ayat-ayat kauniah. Juga akan saya ungkapkan masuknya seorang mukmin sejati dalam bersyariat sehingga mencapai kepada tingkat hakikat syariat secara transendental. Dimana pada sisi ini adalah bagaimana melaksanakan syariat dan merasakan keimanan yang sebenarnya dengan tetap mengacu pada kontrol Al-Qur'an dan Al hadist.
Bagi iman yang tulus, ibadah yang benar serta mujahadah (berjuang menundukkan hawa nafsu) melahirkan cahaya kelezatan yang Allah limpahkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ilham, khowatir (lintasan-lintasan hati), kasyf (penyingkapan rahasia ghaib) dan mimpi bukanlah merupakan dalil-dalil hukum syariat dan tidak dianggap kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya (nash dari Al Qur'an dan As Sunnah).
Di dalam menyikapi prinsip syariat, ada dua golongan/kategori yang termasuk di dalamnya, yaitu :
Golongan pertama, golongan yang mengabaikan cita rasa yang terkandung dalam syariat, atau mereka menilai sesuatu secara lahiriah saja tanpa melihat kepada pengertian sesungguhnya, yang mana mereka/golongan ini mengingkari pengaruh apapun yang timbul dari iman yang dalam, ibadah yang benar, serta ketulusan dalam bermujahadah di dalam mencemerlangkan akal dan memberi hidayah kepada hati.
Golongan kedua, yaitu golongan orang yang di dalam melaksanakan ibadah (bersyariat), tidak hanya sampai kepada makna lahiriah saja, tetapi perhatian terhadap penghadapan jiwa secara hanif (lurus) dan sungguh-sungguh dalam berjuang melumpuhkan hawa nafsu. Di dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda :
"Akan dapat merasakan makanan iman ialah : orang yang ridho terhadap Allah sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya (HOUR Muslim dari Al Abbas). Sufyan bin Usyainah pernah ditanya "Mengapakah ahlul ahwa (yang bergelimang dalam nafsu) itu begitu kuat cintanya kepada nafsunya ?" Sufyan menjawab : "Apakah engkau lupa firman Allah yang mengatakan : "Dan mereka itu telah dimesrakan dalam hati-hati mereka untuk menyembah anak lembu dengan kekufuran mereka (QS. Albaqarah : 92)".
Setiap peribadatan yang apabila kita lakukan dengan syarat sungguh-sungguh akan mendapatkan dampak kepada hati berupa kesejukan dan kemudahan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diridhoi Allah SWT. Dan sebaliknya apabila kita melakukannya dengan sekedarnya saja atau hanya memenuhi syarat sahnya syariat, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa penat dan jenuh. Sehingga terasa sekali di hati kekakuan dan kecongkakkan yang dengan tetap bersimbulkan keislaman. Maka jadilah budaya kita adalah budaya islam yang kaku dan jauh dari sifat kasih sayang serta kebusukan hati yang diseliputi bungkus syariat islam. Kenyataan ini hendaknya kita koreksi bagaimana sikap orang mukmin terhadap sesama, dan bagaimana mereka bila disebut asma Allah....lalu bergetar serta tersungkur dan menangis tak tertahankan.
Di dalam Al Qur'an banyak menjelaskan ciri-ciri orang mukmin sejati. Yang seharusnya menjadi acuan dalam hidup kita dalam melakukan peribadatan kepada Allah SWT. Bukannya lantas takluk kepada kekalahan terhadap nafsu. Yang akhirnya kita tetap berkubang dalam kecintaan terhadap bimbingan setan yang sesat.
Kesulitan hati dalam merasakan nikmat Allah berupa kelezatan iman. Cemerlangnya hati, kekusu'an serta berbuat baik. Ini disebabkan ada bisikan pembimbing yang setia setiap saat dalam melakukan kekejian dan kemungkaran, yaitu setan laknatullah.
Sebagaimana dicantumkan dalam Al Qur'an surat Az Zkhruf 36 : "Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". Sedangkan dalam surat Al Mujadalah ayat 19 Allah berfirman, artinya : "Telah dikerasi mereka oleh setan, maka setan itu telah menjadikan mereka lupa kepada menyebut Allah" Dilanjutkan dalam surat An Nissa 142 tercantum, artinya : "Mereka gemar memperlihatkan amalan-amalannya kepada manusia ramai dan mereka tiada menyebut Allah kecuali hanya sedikit" Juga dalam surat An Nur ayat 21, artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuiti langkah-langkah setan itu menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui".
Setelah melihat sangat jelas keterangan Al Qur'an mengenai betapa setan merupakan penyebab utama dalam mengarahkan manusia untuk berbuat keji dan mungkar, sehingga manusia tidak lagi mampu berbuat yang di perintahkan Allah. Namun demikian Allah menjelaskan dalam Al Qur'an bahwa Allah sendirilah yang akan mengangkat manusia ketika manusia dalam perangkap setan. Kita tidak akan mampu menolak ajakan setan sebab mereka berada dalam pusat hati kita, kita bagaikan terpengaruh hipnotis dimana selalu menuruti apa yang diperintahkan setan. Maka jadilah kita orang yang selalu dalam bimbingan setan. Hati kita menjadi keji tanpa harus melalui proses berpikir. Rasa jahat itu muncul seketika dalam hati dan merasakan sulitnya berbuat kebajikan.
Akan tetapi kekuatan atas kesungguhan dalam menghayati perilaku syariat mengakibatkan si pelaku menemui hakikat (kebenaran) dari apa yang di lakukan selama ini. Seperti di ungkapkan Al Qur'an mengenai shalat "bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar" (Al Ankabut : 45).
Pemahaman atas ayat tersebut adalah bahwa shalat merupakan alat pencegah dari segala perbuatan buruk. Satu hal yang akan penulis kedepankan memperhatikan masalah shalat, bagaimana kita menghayati dan meluruskan jiwa kita dalam menghadap kepada yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak sedikitpun kesyirikan dalam hati maupun pikiran kita. Kehadiran hati, perasaan serta dialog yang telah disyariatkan. Apabila si pelaku tadi melakukannya dengan totalitas tinggi (kaaffah), maka ia akan mendapatkan karunia ketidakmampuan berbuat keji dan mungkar, serta akan dimudahkan untuk selalu bersikap baik. Karena di dalam hati orang itu sudah timbul perasaan ihsan yang terus-menerus terhadap Allah. Syariat tidak lagi menjadi beban si pelaku. Tetapi merupakan energi bagi kehidupan serta menjadi alat komunikasi yang indah untuk selalu berdialog dalam do'a.
Ketidak-mampuan dalam melakukan perbuatan keji dan mungkar adalah merupakan karunia Allah, merupakan kenyataan (hakikat). Si pelaku tidak lagi merasa tertekan dan terbebani syariat yang begitu banyak. Berdasarkan keterangan di atas, maka kecintaan terhadap perbuatan keji dan mungkar itu hanya dapat diatasi dengan membawakan hati tersebut selalu teringat kepada Allah serta mengikhlaskan hati kita hanya untuk Allah.
Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yusuf 24 : "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita iti andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikian itu karena hendak memalingkan yusuf dari perbuatan jahat dan keji, karena sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba yang ikhlas"
Allah telah mengisyarakatkan pada ayat-ayat di atas bahwa kita tidak akan mampu beribadah dengan baik atau melakukan syariat yang begitu banyak, rasanya mustahil kita memenuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, kecuali atas karunia dan bimbingan-Nya. Dan untuk mendapatkan bimbingan serta ianah Allah kita diharapkan memasrahkan diri setiap saat dalam segenap keadaan, dengan cara mengingat Allah baik pagi maupun petang, serta mengikhlaskan setiap peribadatan hanya untuk Allah semata.
Begitulah Allah memalingkan nabi Yusuf dari perbuatan tercela dengan menuntun dan mencabut rasa keji dan mungkar dihatinya. Padahal saat itu kedua belah pihak antara nabi Yusuf dan Siti Zulaiha sudah saling menginginkan, namun nabi Yusuf berserah diri kepada Allah untuk mendapatkan burhan (penerang) diri Allah. Atas dasar keikhlasan dan pemasrahan yang kuat kepada Allah akhirnya nabi Yusuf mendapatkan karunia terlepas dari ajakn setan. "Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah".
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, yang maha mengetahui seluruh rahasia tersembunyi dan dimana hati mukminin bergetar tatkala mendengar asma-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah pada penghulu sekalian Rasul, penyempurna risalah Illahi beserta keluarganya.
Dalam makna syariat menuju Illahi, umat Islam sering terjebak dalam pengertian sempit sehingga tak jarang kehilangan substansinya. Dan akibatnya, mereka hanya melakukan ibadah seremonial dan tidak mendapatkan sesuatu yang berharga yakni pembuka jalan menuju "kebenaran syariat".
Sikap terhadap shalat misalnya, betapa banyak nilai penghayatan dan kekhusyu'an yang terabaikan. Shalat bukan lagi sebagai kebutuhan dialog dan memohon petunjuk tetapi telah berubah sebagai kewajiban yang harus dipenuhi dengan berbagai macam larangan dan ancaman yang mengerikan. Sehingga terasa sekali muncul ketidaknyamanan dalam setiap melakukan syariat Islam. Hal ini tidak ubahnya tawanan perang yang harus memenuhi kewajiban membayar upeti seraya terbayang kejamnya sang penguasa.
Belum lagi dalam melaksanakan petunjuk Al Qur'an yang terasa di kejar target syarat sahnya syariat selain hitung-hitungan amal, dan jarang mengarah pada pemahaman akan fungsi syariat itu sendiri. Setiap syariat (aturan Allah) merupakan jalan dengan segala rambu-rambunya menuju hikmah yang dikandung di dalam teks dan praktek secara sempurna, serta pembuka tabir dibalik "firman".
Syariat bukan hanya untuk di baca dan di sucikan tanpa menyentuh isi tujuan yang di baca, seperti tercantum dalam surat Al Alaq 1-5 : "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah ! Dan Tuhanmu yang paling pemurah. Yang telah mengajar manusia dengan perantara kalam. Dia telah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya".
Memang, Al Qur'an adalah firman Allah yang disucikan sehingga memegangpun harus suci dari hadast, namun hal ini bukan berarti haram bagi manusia untuk memahami sesuai dengan kadar pemikiran dan pemahamannya. Sebab Al Qur'an itu diturunkan sebagai petunjuk manusia dan semesta alam.
Sikap jumud (pendek akal) ini pun pernah di protes RA Kartini pada gurunya, KH Sholeh Darat, ketika ia mengusulkan agar Al Qur'an itu diterjemahkan. Saat itu, ia merenungkan kondisi bangsa Indonesia yang mengalami kemunduran pemikiran. Bagi Kartini, Al Qur'an yang begitu agung tidak hanya bacaan suci yang berpahala dan pengobat hati saja, namun ia merupakan petunjuk hidup di dunia maupun di akhirat. Menurutnya, andai Al Qur'an sudah diterjemahkan waktu itu, insya Allah bangsa Indonesia akan sadar pada integritasnya sehingga tidak akan mau menjadi budak Belanda.
Kata "iqra" merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al Qur'an membuka cakrawala dunia ilmu (pengetahuan) yang dapat di gali melalui kata "baca". Sejarah duniapun mengakui bahwa pada abad ke tujuh Islam telah mengalami masa kejayaan dan peradaban yang pesat.
Islam telah berhasil mengembangkan khazanah landasan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga sampai abad ke tiga belas dilakukan secara terus-menerus penggalian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang kelak dijadikan landasan ilmu pengetahuan modern. Bisa dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang di kembangkan oleh barat yang baru di mulai pada permulaan abad 15 sampai sekarang.
Dengan bersyariat secara benar, Islam mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan secara pesat. Dengan meningkatnya pengetahuan, kita mengenal sifat dan perilaku alam, gejala-gejala alamiah yang komplek atau musykil dapat kita terangkan dan uraikan menjadi gejala-gejala yang lebih sederhana yang mudah kita ketahui.
Dari sini muncul teori untuk menerangkan suatu gejala, ataupun teori yang di susun untuk meramalkan gejala yang akan terjadi bila diadakan suatu percobaan tertentu dalam laboratorium. Kemudian dilakukan eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Begitu seterusnya, hingga sains natural tumbuh dan berkembang terus dari hasil serangkaian kegiatan kaji-mengkaji secara struktural dan sistimatis silih berganti (disebut intizhar). Hal tersebut hanya dapat terjadi dalam suatu generasi yang begitu gigihnya melakukan intizhar (penelitian) atas dasar keislaman yang terkandung dalam Al Qur'an.
Dan bukan dengan cara disucikan dalam makna yang keliru sehingga muncul kerancuan ilmu pengetahuan yang di akibatkan oleh penyampaian tentang Islam yang tidak Islami. Akibatnya bisa kita lihat dan rasakan sekarang bagaimana kebanyakan orang menganggap belajar fisika, biologi, kimia dan ekonomi bukan ilmu Islam. Mereka anti pati dengan ilmu dunia yang di anggap bukan berasal dari Al Qur'an, dan mereka hanya kenal tentang Islam sebagai musabaqoh Al Qur'an, haji, zakat, dan shalawat nabi serta upacara-upacara seremonial, berikut segala larangan dan ancaman, amalan dan ganjaran, tidak lebih dari itu, dan selain itu di tolak habis.
Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya di bidang alkemi yang kemudian oleh ilmuan barat di ambil alih serta di kembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia. Sebab Jabir yang namanya di latinkan menjadi Geber adalah orang yang telah melakukan intizhar dan merupakan orang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi menjadi zat-zat kimia dan mengklasifikasi-kannya.
Di dalam sejarah ilmu pengetahuan yang di tulis oleh sarjana Eropa di sebutkan bahwa Mohammad Ibnu Zakaria ar-rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi dan sebagainya. Buku Ar-rozi, yang namanya di latinkan menjadi Razes, di anggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia yang pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana barat, yang baru berabad-abad kemudian mempelajari sains yang telah di kembangkan oleh umat islam, di universitas-universitas islam di Toledo dan Cordoba, Spanyol.
Terlalu banyak ilmuan islam dan karya mereka untuk disebutkan pada kesempatan ini, dan begitu dalam pula pengaruh terhadap karya tokoh-tokoh ilmiah itu di Eropa dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan hingga masih dirasakan berabad-abad kemudian.
Apakah sebabnya pada masa dahulu umat islam giat sekali mengembangkan islam secara mendalam baik dalam bidang hukum, filsafat, sains, maupun tasawuf. Namun sebaliknya apakah yang kita lihat dan rasakan pada masa sekarang di abad ke 21 ini ?
Di pesantren-pesantren serta perpustakaan-perpustakaan islam hanyalah tersisa berupa kitab lusuh klasik yang "dikeramatkan" dan "dikomersilkan" seperti imriti matan, jurumiah, bulughul marom, madzahibul arba'ah yang kesemuanya itu pelajaran-pelajaran tata bahasa arab belaka serta ilmu-ilmu fiqih yang sudah dipatenkan. Pintu ijtihad sudah ditutup !!
Sesungguhnya di dalam Al Qur'an banyak diperoleh ayat yang mendorong umat islam untuk melakukan intizhar dan menggunakan akal pikiran seperti tercantum dalam ayat 101 surat Yunus memerintahkan : "Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intizhar/nazar apa-apa yang ada di langit dan di bumi." Bahkan dalam ayat 17-20 surat Al Ghasiyah dipertanyakan : "Maka apakah mereka tidak melakukan intizhar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung bagaimana ia didirikan. Dan bumi bagaimana ia dibentangkan. Maka berikanlah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan".
Penggunaan akal pikiran untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah ditegaskan dalam surat An-Nahl 11 : "Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berfikir."
Yang kemudian dilanjutkan dalam ayat 12 : "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal".
Sebenarnya di dalam ayat ini tercantum juga ungkapan bahwa Allah menundukkan dan mengatur perilaku matahari, bintang, dan bulan dengan perintah-Nya. Peraturan Allah inilah yang diikuti oleh seluruh alam semesta beserta isinya, bagaimana ia harus bertingkah laku. Yang kemudian oleh manusia disebut sebagai hukum alam, atau peraturan yang diikuti oleh alam.
Lebih jelas lagi kita baca surat Fushilat ayat 11 : "Kemudian dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi : "Silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Jawab mereka : "Kami mengikuti dengan suka hati".
Ayat ini membuktikan bahwa alam taat mengikuti segala perintah dan peraturan sang pencipta, termasuk apa yang disebut alam pada diri manusia (mikrokosmos), termasuk segala yang ada dalam tubuh kita seperti detak jantung, darah mengalir menghantarkan nutrisi ke seluruh jaringan tubuh, nafas menghembus tanpa kita perintahkan yang semuanya bergerak diluar kehendak kita.
Semua serba teratur dan tunduk patuh kepada peraturan-peraturan yang ditetapkan, mereka bekerja dalam ketetapan dan fungsinya masing-masing. Namun demikian manusia tetaplah manusia yang selalu saja tidak pernah bersukur dan menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah yang maha pemurah, dan tetap saja kebanyakan manusia mengingkari hal itu semua sebagai rahmat-Nya. Walaupun seluruh instrumen tubuh manusia itu sesungguhnya ikut dalam peraturan islam yang merupakan ketetapan Allah.
SYARIAT SEBAGAI GERBANG DUNIA HAKIKAT
Umat islam masa sekarang ini banyak yang mengalami kehilangan arah dan tempat pijakan. Dari mana harus memulainya. Mereka terpuruk dan ingin cepat bangkit dari ketertinggalannya. Hal tersebut tampak dari semangat yang kadang berlebihan dengan diiringi emosi yang tinggi, sehingga hal itu memudahkan musuh-musuh islam untuk mensiasati dan menjadikan umat islam sebagai kaum teroris dan berbagai kesan kurang baik lainnya. Hal ini harus diakui merupakan keteledoran umat islam dalam melaksanakan ajaran dengan pengertian yang keliru.
Islam harus kembali kepada hati yang suci, yang dalam firman Allah dikatakan..."Yang mampu memuat Dzat-Ku". Dengan demikian seharusnya manusia akan berkata-kata dengan Rab-Nya tentang hidup, tentang ilmu, tentang informasi dan rencana-rencana untuk menghadapi semua permasalahan di dunia maupun di akhirat. Bukankah Allah berjanji akan melindungi seorang mukmin dengan mengalahkan sepuluh orang musuh ?.
Kaum yang sedikit dengan kekuatan spiritual yang luar biasa mampu mengalahkan perang badar yang dahsyat. Nabi Musa dengan keteguhannya dalam bertauhid mampu mengalahkan Raja Fir'aun. Dan masih banyak lagi pejuang-pejuang sahid kita dalam menghadapi musuh dengan tetap teguh pada jalan tauhid dan komunikasi kepada Allah Yang Agung.
Kita sadar bahwa begitu agungnya Al Qur'an, dan begitu piciknya kita dalam memahami syariat, sehingga kita lihat umat Islam sekarang terpuruk dan saling menyalahkan. Kita lihat pula gerakan atau harokah-harokah islam muncul dimana-mana dengan berbagai bentuk penawaran berupa konsep keislaman yang lebih murni. Namun apa yang terjadi, kenyataannya mereka masih sangat rapuh sehingga antara mereka masih mengadakan adu otot di khalayak ramai bahkan seperti anak kecil saling cemooh dan masing-masing pihak merasa yang paling benar dan islami.
Satu hal yang belum ada dalam jiwa umat yaitu kelembutan hati akibat jauhnya dari ingat kepada Allah, memulainya tindakan sesuatu bukan dilandasi karena Allah, serta kurang siapnya kita dalam menembus hati-hati yang panas dan gersang dengan sapaan jiwa yang manis penuh kasih. Kita belum memiliki keberanian untuk mengatakan akulah yang salah dan terima kasih atas nasihatmu. Padahal untuk hal seperti itu Allah sudah memberikan peringatan seperti yang tercermin dalam surat Al Asyr ayat 3 : "Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran".
Pada kali ini saya akan membicarakan masalah syariat pada sisi yang lain disamping sudah terpapar mengenai bersyariat untuk memikirkan mengenai ayat-ayat kauniah. Juga akan saya ungkapkan masuknya seorang mukmin sejati dalam bersyariat sehingga mencapai kepada tingkat hakikat syariat secara transendental. Dimana pada sisi ini adalah bagaimana melaksanakan syariat dan merasakan keimanan yang sebenarnya dengan tetap mengacu pada kontrol Al-Qur'an dan Al hadist.
Bagi iman yang tulus, ibadah yang benar serta mujahadah (berjuang menundukkan hawa nafsu) melahirkan cahaya kelezatan yang Allah limpahkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ilham, khowatir (lintasan-lintasan hati), kasyf (penyingkapan rahasia ghaib) dan mimpi bukanlah merupakan dalil-dalil hukum syariat dan tidak dianggap kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya (nash dari Al Qur'an dan As Sunnah).
Di dalam menyikapi prinsip syariat, ada dua golongan/kategori yang termasuk di dalamnya, yaitu :
Golongan pertama, golongan yang mengabaikan cita rasa yang terkandung dalam syariat, atau mereka menilai sesuatu secara lahiriah saja tanpa melihat kepada pengertian sesungguhnya, yang mana mereka/golongan ini mengingkari pengaruh apapun yang timbul dari iman yang dalam, ibadah yang benar, serta ketulusan dalam bermujahadah di dalam mencemerlangkan akal dan memberi hidayah kepada hati.
Golongan kedua, yaitu golongan orang yang di dalam melaksanakan ibadah (bersyariat), tidak hanya sampai kepada makna lahiriah saja, tetapi perhatian terhadap penghadapan jiwa secara hanif (lurus) dan sungguh-sungguh dalam berjuang melumpuhkan hawa nafsu. Di dalam hadist shahih, Rasulullah SAW bersabda :
"Akan dapat merasakan makanan iman ialah : orang yang ridho terhadap Allah sebagai Tuhannya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabinya (HOUR Muslim dari Al Abbas). Sufyan bin Usyainah pernah ditanya "Mengapakah ahlul ahwa (yang bergelimang dalam nafsu) itu begitu kuat cintanya kepada nafsunya ?" Sufyan menjawab : "Apakah engkau lupa firman Allah yang mengatakan : "Dan mereka itu telah dimesrakan dalam hati-hati mereka untuk menyembah anak lembu dengan kekufuran mereka (QS. Albaqarah : 92)".
Setiap peribadatan yang apabila kita lakukan dengan syarat sungguh-sungguh akan mendapatkan dampak kepada hati berupa kesejukan dan kemudahan untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang diridhoi Allah SWT. Dan sebaliknya apabila kita melakukannya dengan sekedarnya saja atau hanya memenuhi syarat sahnya syariat, maka kita tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali rasa penat dan jenuh. Sehingga terasa sekali di hati kekakuan dan kecongkakkan yang dengan tetap bersimbulkan keislaman. Maka jadilah budaya kita adalah budaya islam yang kaku dan jauh dari sifat kasih sayang serta kebusukan hati yang diseliputi bungkus syariat islam. Kenyataan ini hendaknya kita koreksi bagaimana sikap orang mukmin terhadap sesama, dan bagaimana mereka bila disebut asma Allah....lalu bergetar serta tersungkur dan menangis tak tertahankan.
Di dalam Al Qur'an banyak menjelaskan ciri-ciri orang mukmin sejati. Yang seharusnya menjadi acuan dalam hidup kita dalam melakukan peribadatan kepada Allah SWT. Bukannya lantas takluk kepada kekalahan terhadap nafsu. Yang akhirnya kita tetap berkubang dalam kecintaan terhadap bimbingan setan yang sesat.
Kesulitan hati dalam merasakan nikmat Allah berupa kelezatan iman. Cemerlangnya hati, kekusu'an serta berbuat baik. Ini disebabkan ada bisikan pembimbing yang setia setiap saat dalam melakukan kekejian dan kemungkaran, yaitu setan laknatullah.
Sebagaimana dicantumkan dalam Al Qur'an surat Az Zkhruf 36 : "Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". Sedangkan dalam surat Al Mujadalah ayat 19 Allah berfirman, artinya : "Telah dikerasi mereka oleh setan, maka setan itu telah menjadikan mereka lupa kepada menyebut Allah" Dilanjutkan dalam surat An Nissa 142 tercantum, artinya : "Mereka gemar memperlihatkan amalan-amalannya kepada manusia ramai dan mereka tiada menyebut Allah kecuali hanya sedikit" Juga dalam surat An Nur ayat 21, artinya : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuiti langkah-langkah setan itu menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui".
Setelah melihat sangat jelas keterangan Al Qur'an mengenai betapa setan merupakan penyebab utama dalam mengarahkan manusia untuk berbuat keji dan mungkar, sehingga manusia tidak lagi mampu berbuat yang di perintahkan Allah. Namun demikian Allah menjelaskan dalam Al Qur'an bahwa Allah sendirilah yang akan mengangkat manusia ketika manusia dalam perangkap setan. Kita tidak akan mampu menolak ajakan setan sebab mereka berada dalam pusat hati kita, kita bagaikan terpengaruh hipnotis dimana selalu menuruti apa yang diperintahkan setan. Maka jadilah kita orang yang selalu dalam bimbingan setan. Hati kita menjadi keji tanpa harus melalui proses berpikir. Rasa jahat itu muncul seketika dalam hati dan merasakan sulitnya berbuat kebajikan.
Akan tetapi kekuatan atas kesungguhan dalam menghayati perilaku syariat mengakibatkan si pelaku menemui hakikat (kebenaran) dari apa yang di lakukan selama ini. Seperti di ungkapkan Al Qur'an mengenai shalat "bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar" (Al Ankabut : 45).
Pemahaman atas ayat tersebut adalah bahwa shalat merupakan alat pencegah dari segala perbuatan buruk. Satu hal yang akan penulis kedepankan memperhatikan masalah shalat, bagaimana kita menghayati dan meluruskan jiwa kita dalam menghadap kepada yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak sedikitpun kesyirikan dalam hati maupun pikiran kita. Kehadiran hati, perasaan serta dialog yang telah disyariatkan. Apabila si pelaku tadi melakukannya dengan totalitas tinggi (kaaffah), maka ia akan mendapatkan karunia ketidakmampuan berbuat keji dan mungkar, serta akan dimudahkan untuk selalu bersikap baik. Karena di dalam hati orang itu sudah timbul perasaan ihsan yang terus-menerus terhadap Allah. Syariat tidak lagi menjadi beban si pelaku. Tetapi merupakan energi bagi kehidupan serta menjadi alat komunikasi yang indah untuk selalu berdialog dalam do'a.
Ketidak-mampuan dalam melakukan perbuatan keji dan mungkar adalah merupakan karunia Allah, merupakan kenyataan (hakikat). Si pelaku tidak lagi merasa tertekan dan terbebani syariat yang begitu banyak. Berdasarkan keterangan di atas, maka kecintaan terhadap perbuatan keji dan mungkar itu hanya dapat diatasi dengan membawakan hati tersebut selalu teringat kepada Allah serta mengikhlaskan hati kita hanya untuk Allah.
Sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yusuf 24 : "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita iti andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikian itu karena hendak memalingkan yusuf dari perbuatan jahat dan keji, karena sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba yang ikhlas"
Allah telah mengisyarakatkan pada ayat-ayat di atas bahwa kita tidak akan mampu beribadah dengan baik atau melakukan syariat yang begitu banyak, rasanya mustahil kita memenuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, kecuali atas karunia dan bimbingan-Nya. Dan untuk mendapatkan bimbingan serta ianah Allah kita diharapkan memasrahkan diri setiap saat dalam segenap keadaan, dengan cara mengingat Allah baik pagi maupun petang, serta mengikhlaskan setiap peribadatan hanya untuk Allah semata.
Begitulah Allah memalingkan nabi Yusuf dari perbuatan tercela dengan menuntun dan mencabut rasa keji dan mungkar dihatinya. Padahal saat itu kedua belah pihak antara nabi Yusuf dan Siti Zulaiha sudah saling menginginkan, namun nabi Yusuf berserah diri kepada Allah untuk mendapatkan burhan (penerang) diri Allah. Atas dasar keikhlasan dan pemasrahan yang kuat kepada Allah akhirnya nabi Yusuf mendapatkan karunia terlepas dari ajakn setan. "Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah".
Selasa, 17 Mei 2011
Belajar Sabar
Banyak orang selalu menyarankan kita untuk hidup dengan sabar. Menghadapi segala apapun harus dengan sabar. Ada yang menggolongkan sabar ke dalam kategori sifat, watak atau karakter.... Yang menjadi pertanyaan, apakah kita bisa mengubah sifat maupun watak kita menjadi orang yang sabar....?
Mungkin selama ini kita selalu menyangka, kalau orang yang sabar itu tidak bisa marah, tidak mudah tersinggung, tidak pernah kecewa. Ternyata semua dugaan ini salah. Orang sabar itu bisa marah, bisa tersinggung, kecewa, sedih juga. Hanya saja yang membedakan, orang tersebut sudah bisa mengendalikan dirinya. Sehingga ia tidak berlarut-larut terhanyut oleh keadaan emosinya.
Adapun metode yang digunakan untuk mencapai kesabaran antara lain :
1. Metode psikis dan sugesti
Yaitu metode penanaman konsep/prinsip, untuk menyadari bahwa :
- KEMARAHAN tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan dengan baik.
- KEMARAHAN tidak akan merubah keadaan dalam waktu seketika.
- Apakah sudah tepat dan layak kita marah kepada orang lain ? Padahal dia belum tentu sengaja berbuat untuk menyakiti hati kita.
2. Metode menunda, meredam kemarahan :
- Menarik napas dalam-dalam dan dilakukan berulang-ulang.
- Berdo'a atau membaca istigfar.
- Berwudhu atau mandi.
Hal tersebut di atas adalah beberapa teori dan metode yang bisa kita pakai untuk berlatih mengendalikan emosi.
Dalam Islam pun sebenarnya sudah di ajarkan cara pengendalian diri yaitu melalui puasa Ramadhan. Hal ini dilakukan selama satu bulan penuh dalam setahun. Hanya saja setelah berlatih mengendalikan diri selama satu bulan, apakah masih mau berusaha mengendalikan diri atau tidak....? Jawabannya terserah saudara.
Mungkin selama ini kita selalu menyangka, kalau orang yang sabar itu tidak bisa marah, tidak mudah tersinggung, tidak pernah kecewa. Ternyata semua dugaan ini salah. Orang sabar itu bisa marah, bisa tersinggung, kecewa, sedih juga. Hanya saja yang membedakan, orang tersebut sudah bisa mengendalikan dirinya. Sehingga ia tidak berlarut-larut terhanyut oleh keadaan emosinya.
Adapun metode yang digunakan untuk mencapai kesabaran antara lain :
1. Metode psikis dan sugesti
Yaitu metode penanaman konsep/prinsip, untuk menyadari bahwa :
- KEMARAHAN tidak akan pernah bisa menyelesaikan permasalahan dengan baik.
- KEMARAHAN tidak akan merubah keadaan dalam waktu seketika.
- Apakah sudah tepat dan layak kita marah kepada orang lain ? Padahal dia belum tentu sengaja berbuat untuk menyakiti hati kita.
2. Metode menunda, meredam kemarahan :
- Menarik napas dalam-dalam dan dilakukan berulang-ulang.
- Berdo'a atau membaca istigfar.
- Berwudhu atau mandi.
Hal tersebut di atas adalah beberapa teori dan metode yang bisa kita pakai untuk berlatih mengendalikan emosi.
Dalam Islam pun sebenarnya sudah di ajarkan cara pengendalian diri yaitu melalui puasa Ramadhan. Hal ini dilakukan selama satu bulan penuh dalam setahun. Hanya saja setelah berlatih mengendalikan diri selama satu bulan, apakah masih mau berusaha mengendalikan diri atau tidak....? Jawabannya terserah saudara.
Nur Muhammad di lihat oleh Malaikat ketika mau bersujud kepada Adam
Nabi Adam alaihisallam bertanya : "Ya Allah mengapa para malaikat ini berdiri berbaris bershaf-shaf di belakangku ?" Allah subhana wata'ala berfirman kepada Nabi Adam : Wahai Adam para malaikat itu berdiri di belakangmu, karena tengah memperhatikan Nur kekasihku Muhammad.
Di jelaskan bahwa Allah Subhana Wata'ala membagi Nur Muhammad menjadi empat bagian. Bagian pertama dari NuR Muhammad, dijadikan Lauhih Mahfuz dan bagian kedua dari Nur Muhammad, Allah Subhana wata'ala menjadikan Qolam atau pena. Selanjutnya, bagian ketiga dari Nur Muhammad, dengan Nur tersebut Allah subhana wata'ala menjadikan Arsyi. Arsy adalah makhluk Allah subhana wata'ala yang terbesar seperti di gambarkan dalam firmannya yaitu "wahuwa Robbul Arsyil 'adzhim, Dialah Allah subhana wata'ala pemelihara Arsyi yang besar, makhluk terbesar inipun berasal Nur Muhammad.
Bagian keempat dari Nur Muhammad tersebut Allah swt menjadi empat bagian pula dengan rincian sebagai berikut :
1. Bagian pertama dari Nur Muhammad yang keempat dengan nur itu Allah swt menjadikan akal bagi manusia.
2. Bagian kedua dari Nur Muhammad yang keempat dengan nur tersebut Allah swt menjadikan Ilmu Pengetahuan.
3. Bagian dari ketiga Nur Muhammad yang keempat dengan nur tersebut Allah swt menjadikan cahaya hati, cahaya siang dan cahaya Arsy.
4. Bagian keempat dari Nur Muhammad yang keempat, bagian Nur inilah yang kelak akan menjadikan fisik nabi kita, Muhammad saw dan lahir ke dunia ini. Nur yang akan menjadi fisik nabi kita itu di simpan oleh Allah swt di bawah Arsy selama 2000 tahun sebelum Allah menciptakan Nabi Adam 'alaihissalam.
Ketika Allah swt menciptakan nabi Adam 'Alaihissalam, Nur yang tersimpan di bawah Aesyi yang kelak akan lahir menjadi fisik Nabi Muhammad saw di pindahkan oleh Allah swt ke dalam tulang sulbi Nabi Adam 'Alaihissalam selesai di ciptakan ba'da ashar hari Jumat, langsung di tempatkan di dalam sorga. Allah swt memerintahkan malaikat untuk sujud menghormati terhadap Nabi Adam 'Alaihissalam.
Saat para malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk sujud menghormati Nabi Adam 'Alaihissalam. Para malaikat inipun segera berdiri di belakang nabi Adam 'Alaihissalam berbaris bershaf-shaf memanjang ke belakang nabi Adam Alaihissalam. Secara rasio, nampak ada sesuatu yang janggal, yakni menghormati seseorang namun dari arah belakang, karena hal ini tidak pernah terjadi, itulah sebabnya Nabi Adam 'Alaihissalam akhirnya bertanya kepada Allah swt. Ya Allah mengapa para malaikat ini berdiri bershaf-shaf di belakangku ?" Lalu Allah swt berfirman kepada Nabi Adam : Wahai Adam para malaikat ini berdiri di belakangmu, karena tengah memperhatikan Nur kekasihku Muhammad, penutup para rasul dan nabi, karena Nur kekasihku akan ku keluarkan dari tulang rusukmu.
Bedasar keterangan ini banyak para ulama yang berpendapat bahwa secara zhohir para malaikat menghormat kepada Nabi Adam 'Alaihissalam, namun pada hakikatnya, para malaikat itu menghormat dengan ta'zim kepada nabi Muhammad, Rasulullah Shallallahu 'Alaihissalam Wassalam.
Setelah Nabi Adam As mengetahui para malaikat berdiri di belakang mereka karena melihat Nur Muhammad yang tersimpan di tulang sulbinya, maka Nabi Adam As pun meminta pada Allah swt agar Nur Muhammad tersebut di pindahkan ke bagian depan dirinya. Maka di pindahkan Nur tersebut dari tulang sulbi ke kening Nabi Adam As, ketika Nur tersebut pindah, maka serentak malaikatpun pindah menghadap ke kening Nabi Adam As. Lalu Nabi Adam As meminta lagi kepada Allah swt agar Nur tersebut di pindah ke bagian tubuhnya yang ia bisa melihat Nur tersebut. Lalu di pindahkan Nur Muhammad tersebut ke telunjuk Nabi Adam As, sesaat kemudian nabi Adam As melihat Nur tersebut sangat indah dan menakjubkan. Nabi Adam As semakin takjub dengan Nur tersebut mana kala ia mendengar Nur tersebut mengucap tasbih kepada Allah swt dengan tasbih yang sangat agung dan mulia.
Di kemudian hari setelah Allah swt, Nur Muhammad tersebut di pindahkan ke wajah hawa. Nabi Adam As melihat Nur tersebut laksana matahari yang tengah memancarkan cahayanya dengan gemerlapan. Inilah makhluk pertama yang menjadi tempat persinggahan Nur Muhammad tersebut. Setelah Nabi Adam As mempunyai anak, nur tersebut pindah lagi ke salah satu anak Nabi Adam As yang bernamma Syits. Saat Nur Muhammad berada di tulang rusuk Syits, saat itula Nabi Adam As memohon perjanjian kepada Allah swt agar Nur Muhammad selalu berada di tulang rusuk tulang rusuk laki-laki mulia dan suci bersih serta perempuan - perempuan mulia dan suci bersih. Sejak saat itulah Nur Muhammad selalu berpindah dari satu tulang sulbi laki-laki mulia bernama Sayyidina Abdullah bin Abdul Tholib dan wanita mulia bernama Sayyidatina Aminah binti Wahab. Beliau lahir menjelang subuh, senin 12 Rabiul Awal sebagai pemimpin para rasul dan penutup para Nabi, sebagai sumber rahmat bagi seluruh makhluk***
Sumber kitab :
Madarijussu, Imam Nawawi hal. 2-3
Di jelaskan bahwa Allah Subhana Wata'ala membagi Nur Muhammad menjadi empat bagian. Bagian pertama dari NuR Muhammad, dijadikan Lauhih Mahfuz dan bagian kedua dari Nur Muhammad, Allah Subhana wata'ala menjadikan Qolam atau pena. Selanjutnya, bagian ketiga dari Nur Muhammad, dengan Nur tersebut Allah subhana wata'ala menjadikan Arsyi. Arsy adalah makhluk Allah subhana wata'ala yang terbesar seperti di gambarkan dalam firmannya yaitu "wahuwa Robbul Arsyil 'adzhim, Dialah Allah subhana wata'ala pemelihara Arsyi yang besar, makhluk terbesar inipun berasal Nur Muhammad.
Bagian keempat dari Nur Muhammad tersebut Allah swt menjadi empat bagian pula dengan rincian sebagai berikut :
1. Bagian pertama dari Nur Muhammad yang keempat dengan nur itu Allah swt menjadikan akal bagi manusia.
2. Bagian kedua dari Nur Muhammad yang keempat dengan nur tersebut Allah swt menjadikan Ilmu Pengetahuan.
3. Bagian dari ketiga Nur Muhammad yang keempat dengan nur tersebut Allah swt menjadikan cahaya hati, cahaya siang dan cahaya Arsy.
4. Bagian keempat dari Nur Muhammad yang keempat, bagian Nur inilah yang kelak akan menjadikan fisik nabi kita, Muhammad saw dan lahir ke dunia ini. Nur yang akan menjadi fisik nabi kita itu di simpan oleh Allah swt di bawah Arsy selama 2000 tahun sebelum Allah menciptakan Nabi Adam 'alaihissalam.
Ketika Allah swt menciptakan nabi Adam 'Alaihissalam, Nur yang tersimpan di bawah Aesyi yang kelak akan lahir menjadi fisik Nabi Muhammad saw di pindahkan oleh Allah swt ke dalam tulang sulbi Nabi Adam 'Alaihissalam selesai di ciptakan ba'da ashar hari Jumat, langsung di tempatkan di dalam sorga. Allah swt memerintahkan malaikat untuk sujud menghormati terhadap Nabi Adam 'Alaihissalam.
Saat para malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk sujud menghormati Nabi Adam 'Alaihissalam. Para malaikat inipun segera berdiri di belakang nabi Adam 'Alaihissalam berbaris bershaf-shaf memanjang ke belakang nabi Adam Alaihissalam. Secara rasio, nampak ada sesuatu yang janggal, yakni menghormati seseorang namun dari arah belakang, karena hal ini tidak pernah terjadi, itulah sebabnya Nabi Adam 'Alaihissalam akhirnya bertanya kepada Allah swt. Ya Allah mengapa para malaikat ini berdiri bershaf-shaf di belakangku ?" Lalu Allah swt berfirman kepada Nabi Adam : Wahai Adam para malaikat ini berdiri di belakangmu, karena tengah memperhatikan Nur kekasihku Muhammad, penutup para rasul dan nabi, karena Nur kekasihku akan ku keluarkan dari tulang rusukmu.
Bedasar keterangan ini banyak para ulama yang berpendapat bahwa secara zhohir para malaikat menghormat kepada Nabi Adam 'Alaihissalam, namun pada hakikatnya, para malaikat itu menghormat dengan ta'zim kepada nabi Muhammad, Rasulullah Shallallahu 'Alaihissalam Wassalam.
Setelah Nabi Adam As mengetahui para malaikat berdiri di belakang mereka karena melihat Nur Muhammad yang tersimpan di tulang sulbinya, maka Nabi Adam As pun meminta pada Allah swt agar Nur Muhammad tersebut di pindahkan ke bagian depan dirinya. Maka di pindahkan Nur tersebut dari tulang sulbi ke kening Nabi Adam As, ketika Nur tersebut pindah, maka serentak malaikatpun pindah menghadap ke kening Nabi Adam As. Lalu Nabi Adam As meminta lagi kepada Allah swt agar Nur tersebut di pindah ke bagian tubuhnya yang ia bisa melihat Nur tersebut. Lalu di pindahkan Nur Muhammad tersebut ke telunjuk Nabi Adam As, sesaat kemudian nabi Adam As melihat Nur tersebut sangat indah dan menakjubkan. Nabi Adam As semakin takjub dengan Nur tersebut mana kala ia mendengar Nur tersebut mengucap tasbih kepada Allah swt dengan tasbih yang sangat agung dan mulia.
Di kemudian hari setelah Allah swt, Nur Muhammad tersebut di pindahkan ke wajah hawa. Nabi Adam As melihat Nur tersebut laksana matahari yang tengah memancarkan cahayanya dengan gemerlapan. Inilah makhluk pertama yang menjadi tempat persinggahan Nur Muhammad tersebut. Setelah Nabi Adam As mempunyai anak, nur tersebut pindah lagi ke salah satu anak Nabi Adam As yang bernamma Syits. Saat Nur Muhammad berada di tulang rusuk Syits, saat itula Nabi Adam As memohon perjanjian kepada Allah swt agar Nur Muhammad selalu berada di tulang rusuk tulang rusuk laki-laki mulia dan suci bersih serta perempuan - perempuan mulia dan suci bersih. Sejak saat itulah Nur Muhammad selalu berpindah dari satu tulang sulbi laki-laki mulia bernama Sayyidina Abdullah bin Abdul Tholib dan wanita mulia bernama Sayyidatina Aminah binti Wahab. Beliau lahir menjelang subuh, senin 12 Rabiul Awal sebagai pemimpin para rasul dan penutup para Nabi, sebagai sumber rahmat bagi seluruh makhluk***
Sumber kitab :
Madarijussu, Imam Nawawi hal. 2-3
Senin, 16 Mei 2011
Menyucikan Jiwa Dalam Menuju Illahi Bab-3
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"
Keadaan tubuh kadang semakin berat di rasa...getaran jiwa semakin kuat dan...emosi jiwa semakin tidak bisa di bendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah...
Saat itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlas...sehingga Allah akan berkehendak membimbing sholat...membimbing ruku' dan membimbing hati kita untuk bersabar...(Lihat surat Azzumar 22-23)
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Allah (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alqur'an yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah...
Pada intinya "JIWA" lah yang menjadi penyebab kerusakan manusia..., dan pada jiwa pula manusia menjadi tinggi derajadnya di sisi Allah...sedang kebersihan jiwa hanya bisa ditempuh dengan jalan mengingat Allah (Dzikrullah) secara terus menerus...serta...berusaha keras menghadap untuk berbakti kepada Allah kemudian berpaling dari kemauan syahwat itulah yang membersihkan dan menjernihkan hati.
Secara luas, Alqur'an menggambarkan sebagai fokus dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat erat dengan Allah, pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu Tuhan. Pertemuan ini merupakan dimensi kognitif dan juga dimensi moral.
Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia. Tuhan menaruh perhatian khusus padanya dan kurang begitu memperhatikan amalan-amalan aktual yang dilakukan orang-orang "Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengaja" (Qs 33:5)
"Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, akan tetapi Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu. Dan Tuhan maha pengampun lagi maha penyantun (Qs 2:225)
Dan sebuah Hadist menyatakan bahwa "Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan ke dalam hatimu"
Karena hati adalah tempat yang di lihat Tuhan, ia merupakan kunci menuju kemunafikan, watak yang paling yang buruk dalam pandangan muslim. "Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu" (Qs 33:51)
Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa di dalam hati, dan wahyu diturunkan ke dalam hati para Nabi.
"(Jibril) menurunkan wahyu ke dalam hati nurani mu dengan izin Tuhanmu, membenarkan wahyu sebelumnya,.... (Qs 2:97)
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & khusyu' Beribadah"
Keadaan tubuh kadang semakin berat di rasa...getaran jiwa semakin kuat dan...emosi jiwa semakin tidak bisa di bendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah...
Saat itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlas...sehingga Allah akan berkehendak membimbing sholat...membimbing ruku' dan membimbing hati kita untuk bersabar...(Lihat surat Azzumar 22-23)
"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Allah (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Alqur'an yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah, itulah petunjuk Allah...
Pada intinya "JIWA" lah yang menjadi penyebab kerusakan manusia..., dan pada jiwa pula manusia menjadi tinggi derajadnya di sisi Allah...sedang kebersihan jiwa hanya bisa ditempuh dengan jalan mengingat Allah (Dzikrullah) secara terus menerus...serta...berusaha keras menghadap untuk berbakti kepada Allah kemudian berpaling dari kemauan syahwat itulah yang membersihkan dan menjernihkan hati.
Secara luas, Alqur'an menggambarkan sebagai fokus dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat erat dengan Allah, pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu Tuhan. Pertemuan ini merupakan dimensi kognitif dan juga dimensi moral.
Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia. Tuhan menaruh perhatian khusus padanya dan kurang begitu memperhatikan amalan-amalan aktual yang dilakukan orang-orang "Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengaja" (Qs 33:5)
"Tuhan tidak akan menghukummu karena sumpah yang tidak disengaja, akan tetapi Tuhan akan menghukummu karena sumpah yang disengaja oleh hatimu. Dan Tuhan maha pengampun lagi maha penyantun (Qs 2:225)
Dan sebuah Hadist menyatakan bahwa "Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu, melainkan ke dalam hatimu"
Karena hati adalah tempat yang di lihat Tuhan, ia merupakan kunci menuju kemunafikan, watak yang paling yang buruk dalam pandangan muslim. "Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu" (Qs 33:51)
Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia. Kehadiran-Nya terasa di dalam hati, dan wahyu diturunkan ke dalam hati para Nabi.
"(Jibril) menurunkan wahyu ke dalam hati nurani mu dengan izin Tuhanmu, membenarkan wahyu sebelumnya,.... (Qs 2:97)
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & khusyu' Beribadah"
Menyucikan Jiwa Dalam Menuju Illahi Bab-2
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"
Rasulullah pernah berwasiat kpd Sayyidina Muadz bin Jabal tentang bacaan doa yang didawamkan "Ya Allah, ajarkan aku tentang ingat (dzikir) kepada Engkau, dan syukur serta ajarkan kekhusyu'an dalam beribadah kepada-Mu"
Wasiat diatas merupakan pintu untuk membuka jalur komunikasi kepada Allah dimana ada hal-hal yang manusia tidak mampu mendialogkan kepada orang lain atau manusia tidak bisa menunjuki jalan yang diinginkan. Seperti yang tercantum dalam do'a Sayyidina Muadz bin Jabal di atas, hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan dan petunjuk (Qs 1:5)
Komunikasi adalah melakukan dialog langsung secara lugu dan polos sesuai dengan keadaan hati kita, tidak perlu bergaya-gaya dihadapan Allah apalagi dilagu-lagukan. Cukup diam dengan rasa rendah hati (tawadhu'), dan menjaga kesopanan dihadapan Allah, serta rasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Panggillah Asma-Nya yang baik-baik.... Ya Allah..... Ya Allah..... Ya Allah berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam. Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat. Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada karena Allah ada dimana saja anda berada.
Kalau seandainya tiba-tiba anda menangis ketika berdzikir atau bahkan ketika shalat...hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena Alquran telah menjamin dan akan membimbing perjalanan kita...mudah-mudahan anda mendapatkan karunia dari Allah swt. Amin.
(Buka surat Maryam ayat 58)
Di dalam tafakkur kita sebaiknya tetap berbekal ilmu syariat, bahwa Allah bukan laki-laki juga bukan wanita atau tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan makhluqnya.
Mulailah setiap melakukan dialog dengan didahului membaca :
Bismillahirrahmanirrahim.....
Dua kalimat syahadat
Shalawat kepada Rasulullah
Bisa dilakukan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring.... (Annisa : 103)
Hubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah. Panggil Asma-Nya berulang-ulang (tanpa menghitung-hitung jumlahnya) dengan suara hati yang dalam...lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita....rasakan kedamaian dan keheningan yang sejuk didada...sebut terus Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah...dan kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan sampai ke dalam lubuk hati yang dalam...sehingga akan ada bimbingan di dalam hati kita untuk selalu ingat Allah...hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak mau di ajak untuk berhenti...terkadang ucapan dzikirnya berubah dengan sendirinya...Ya Allah...Ya Allah berganti la ilaha illallah...dan seterusnya...
Tubuh akan semakin ringan dan pasrah...hati menjadi lebih tenang dan terang benderang...rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi lunak dan mudah terkendali.
Bersambung.... Menyucikan Jiwa Dalam Menuju Illahi Bab-3
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"
Rasulullah pernah berwasiat kpd Sayyidina Muadz bin Jabal tentang bacaan doa yang didawamkan "Ya Allah, ajarkan aku tentang ingat (dzikir) kepada Engkau, dan syukur serta ajarkan kekhusyu'an dalam beribadah kepada-Mu"
Wasiat diatas merupakan pintu untuk membuka jalur komunikasi kepada Allah dimana ada hal-hal yang manusia tidak mampu mendialogkan kepada orang lain atau manusia tidak bisa menunjuki jalan yang diinginkan. Seperti yang tercantum dalam do'a Sayyidina Muadz bin Jabal di atas, hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan dan petunjuk (Qs 1:5)
Komunikasi adalah melakukan dialog langsung secara lugu dan polos sesuai dengan keadaan hati kita, tidak perlu bergaya-gaya dihadapan Allah apalagi dilagu-lagukan. Cukup diam dengan rasa rendah hati (tawadhu'), dan menjaga kesopanan dihadapan Allah, serta rasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Panggillah Asma-Nya yang baik-baik.... Ya Allah..... Ya Allah..... Ya Allah berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam. Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat. Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada karena Allah ada dimana saja anda berada.
Kalau seandainya tiba-tiba anda menangis ketika berdzikir atau bahkan ketika shalat...hal tersebut tidak perlu dirisaukan karena Alquran telah menjamin dan akan membimbing perjalanan kita...mudah-mudahan anda mendapatkan karunia dari Allah swt. Amin.
(Buka surat Maryam ayat 58)
Di dalam tafakkur kita sebaiknya tetap berbekal ilmu syariat, bahwa Allah bukan laki-laki juga bukan wanita atau tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan makhluqnya.
Mulailah setiap melakukan dialog dengan didahului membaca :
Bismillahirrahmanirrahim.....
Dua kalimat syahadat
Shalawat kepada Rasulullah
Bisa dilakukan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring.... (Annisa : 103)
Hubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah. Panggil Asma-Nya berulang-ulang (tanpa menghitung-hitung jumlahnya) dengan suara hati yang dalam...lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita....rasakan kedamaian dan keheningan yang sejuk didada...sebut terus Ya Allah...Ya Allah...Ya Allah...dan kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan sampai ke dalam lubuk hati yang dalam...sehingga akan ada bimbingan di dalam hati kita untuk selalu ingat Allah...hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak mau di ajak untuk berhenti...terkadang ucapan dzikirnya berubah dengan sendirinya...Ya Allah...Ya Allah berganti la ilaha illallah...dan seterusnya...
Tubuh akan semakin ringan dan pasrah...hati menjadi lebih tenang dan terang benderang...rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi lunak dan mudah terkendali.
Bersambung.... Menyucikan Jiwa Dalam Menuju Illahi Bab-3
"Ya Allah, Ajari Kami Ingat Kepada-Mu, Bersyukur & Khusyu' Beribadah"
Langganan:
Komentar (Atom)